MAKALAH HKIKAT PENDIDIKAN

Posted: 24 Oktober 2011 in Tak terkategori

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT yang telah melimpahkanrahmat dan karunianya serta memberi kekuatan, kesehatan dan kemampuanhingga pembuatan tugas ini dapat kami selesaikan.Laporan yang singkat dan sederhana ini memaparkan tentang HakikatPendidikan di antaranya mengenai Permasalahan Pendidikan serta pembahasanmasalahnya.Materi yang dituliskan dalam laporan ini dimaksudkan untuk mempelajarihakikat pendidikan. Pendidikan dalam arti yang luas, memang peranan sangatstrategis dalam setiap masyarakat dan kebudayaan. Suatu masyarakat mempunyaiketeraturan yang diikat oleh sistem nilai yang hidup dalam kebudayaan yangdimiliki oleh masyarakat itu.Pendidikan, masyarakat, kebudayaan, merupakan suatu tri partit tunggaldimana kebudayaan merupakan dasarnya, masyarakat menyediakan sarana dan proses pendidikan merupakan kegiatan untuk melestarikan dan mengembangkannilai-nilai yang mengikat kehidupan bersama dalam masyarakat. Dengandemikian, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan dan masyarakatsebagai pemilik kebudayaan itu.Kebudayaan nasional Indonesia, yang telah ada atau yang sedang kita bentuk, haruslah menjadi dasar pendidikan nasional kita. Pendidikan nasionalhanya dapat hidup dalam realitas kehidupan masyarakat kita yang bhineka.Kebijakan-kebijakan pendidikan nasional kita haruslah bertolak dari premis ini.Dalam era reformasi. Kita ingin mewujudkan masyarakat madani Indonesia.Tentunya masyarakat tersebut haruslah berakar pada dan hidup dalam kebudayaanIndonesia. Masyarakat Indonesia yang bineka serta sedang dalam tahap belajar untuk hidup berdemokrasi dalam arti yang sebenarnya. Memerlukan proses belajar dengan prioritas nilai-nilai tertentu.Ilmu merupakan imamnya amal. Sehingga untuk berbuat sesuatu ataumengerjakan sesuatu agar berhasil baik dan tanpa kesulitan, seseorang harusmemahami atau menguasai ilmunya terlebih dahulu serta menghantarkanseseorang ke tingkat keimanan yang lebih tinggi dan ketaqwaan yang sepenuhnyakepada sang pencipta.“Tak ada gading yang tak retak” begitu pula dalam pembuatan tugas inisangat jauh dari kesempurnaan, sehingga apabila dalam tugas ini ditemukan

pernyataan-pernyataan yang keliru dan tidak logis, maka hal tersebut adalahsemata-mata karena kekeliruan dan kelemahan kami. Sebaliknya jika pernyataanyang menyangkut konsepsi-konsepsi dasar tersebut adalah benar, itu hanyasemata-mata karena pertolongan Allah yang maha kuasa.Sehubungan dengan pembuatan tugas ini, kami sangat mengharap saran dankritik yang membangun dari semua pihak, untuk dijadikan landasan dan penyempurnaan tulisan ini.Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telahmembantu dengan tulus hingga terselesaikannya tugas ini, khususnya kepada IbuDra. Sri Widayati, M.Pd.Akhirnya kami berharap semoga tugas yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

BAB IPENDAHULUAN
A.Era ReformasiMasyarakat Indonesia kini sedang berada dalam masa transformasi EraReformasi telah lahir dalam masyarakat Indonesia ingin mewujudkan perubahan dalam semua aspek kehidupannya. Euforia demokrasi sedangmarak dalam masyarakat Indonesia. Di tengah-tengah euforia demokrasi inilahirlah berbagai jenis pendapat, pandangan, konsep yang tidak jarang yangsatu bertentangan dengan yang lain, antara lain berbagai pandangan mengenai bentuk masyarakat dan bangsa Indonesia yang dicita-citakan di masa depan.Salah satu ciri masyarakat demokrasi ialah lahirnya berbagai jenis pendapat sebagai pernyataan harkat manusia untuk memenuhi hak-hak asasinya untuk berekspresi. Munculnya berbagai jenis pendapat, yang tidak jarang yang satu berseberangan dengan yang lain, menandakan suatukeinginan yang sudah lama terpendam dari manusia dan masyarakat mudahuntuk memperoleh kembali hak-hak asasinya yang dijamin di dalam UUD1945. Dalam sejarah perkembangan masyarakat dan bangsa Indonesia yangtelah lebih 54 tahun merdeka itu untuk memperoleh hak asasinya belumsepenuhnya dapat diwujudkan.Dalam bidang pendidikan nasional juga telah muncul berbagai pendapatdan pandangan mengenai perlunya reformasi pendidikan nasional tuntutanreformasi total dalam kehidupan berbangsa termasuk di dalamnya reformasi pendidikan nasional semakin lama semakin perlu, mengingat proses pendidikan merupakan salah satu tuntutan konstitusi yang mengatakan bahwatujuan untuk membangun negara yang merdeka ini ialah untuk mencerdaskankehidupan bangsa. Pendidikan nasional merupakan salah satu tuntutanfundamental yang diamanatkan oleh konstitusi 1945. Tujuan kita membentuk negara ialah untuk melahirkan bangsa Indonesia yang cerdas. Sistem pendidikan nasional dengan demikian sangat erat kaitannya dengan kehidupan politik bangsa. Selama orde Baru telah tercipta suatu kehidupan berbangsayang tidak sesuai dengan cita-cita UUD 1945. ternyata pemerintahan yangrepresif telah menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang tertekan, yangtidak kritis, yang bertindak dan berpikir dalam acuan suatu struktur kekuasaan.Era reformasi menuntut kembali kedaulatan rakyat yang telah hilang itu.
Dengan sendirinya pula pendidikan nasional haruslah dikembalikan fungsinyamemberdayakan masyarakat yaitu mengembalikan kedaulatan rakyat.Pendidikan nasional perlu direformasikan untuk mewujudkan visi barumasyarakat Indonesia yaitu suatu masyarakat madani Indonesia.

B.Mengapa Reformasi Pendidikan Nasional Perlu.Pendidikan Nasional dan cita-cita nasional tidak dapat dipisahkan sesuaidengan amanat konstitusi. Pendidikan nasional cara untuk mencapai cita-citanasional. Apabila kita ingin mereformasi pendidikan nasional maka perlulahsistem pendidikan nasional itu mempunyai visi yang jelas, yaitu yang sesuaidengan konstitusi ialah mewujudkan suatu masyarakat demokrasi, masyarakatyang menghargai hak-hak asasi manusia dan mengembangkan tanggung jawabanggota masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan itu.Reformasi pendidikan nasional dilaksanakan sesuai dengan visi reformasiyaitu terwujudnya tatanan kehidupan yang sesuai dengan amanat proklamasikemerdekaan 1945 yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas. Masyarakatyang cerdas ialah suatu masyarakat pancasilais yang memiliki cita-cita danharapan masa depan, demokratis dan beradab, menjunjung tinggi hak-hak asasimanusia dan bertanggung jawab, berakhlak mulia, tertib dan sadar hukum,kooperatif dan kompetitif serta memiliki kesadaran dan solidaritas antara generasidan antara bangsa. Masyarakat yang cerdas adalah masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang Maha Esa. maju dan mandiri, serta berwawasan budaya.

BAB IIINTI
2.1 HAKIKAT PENDIDIKAN
A.Berbagai pendekatan.Hakikat pendidikan itu dapat dikategorisasikan dalam dua pendapat yaitu pendekatan epistemologis dan pendekatan ontologi ataumetafisik. Kedua pendekatan tersebut tentunya dapat melahirkan jawabanyang berbeda-beda mengenai apakah hakikat pendidikan itu.Di dalam pendidikan epistemologis yang menjadi masalah adalahakar atau kerangka ilmu pendidikan sebagai ilmu. Pendekatan tersebutmencari makna pendidikan sebagai ilmu yaitu mempunyai objek yangakan merupakan dasar analisis yang akan membangun ilmu pengetahuanyang disebut ilmu pendidikan. Dari sudut pandang pendidikan dilihatsebagai sesuatu proses yang interen dalam konsep manusia. Artinyamanusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses pendidikan.Berbagai pendapat mengenai hakikat pendidikan dapatdigolongkan atas dua kelompok besar yaitu :1.Pendekatan reduksionisme2.Pendekatan holistik integratif B.Pendekatan RedaksionalTeori-teori / pendekatan redaksional sangat banyak dikemukakandi dalam khazanah ilmu pendidikan. Dalam hal ini akan dibicarakan berbagai pendekatan reduksionaisme sebagai berikut :1.Pendekatan pedagogis / pedagogisme2.Pendekatan Filasofis / religionisme3.Pendekatan religius / religionisme4.Pendekatan psikologis / psikologisme5.Pendekatan negativis / negativisme6.Pendekatan sosiologis / sosiologismu.

1.Pendekatan PedagogismeTitik tolak dari teori ini ialah anak yang akan di besarkan menjadimanusia dewasa. Pandangan ini apakah berupa pandangan nativismeschopenhouer serta menganut penganutnya yang beranggapan bahwa anak telah mempunyai kemampuan-kemampuan yang dilahirkan dan tinggal dikembangkan saja.2.Pendekatan Filosofis.Anak manusia mempunyai hakikatnya sendiri dan berada denganhakikat orang dewasa. Oleh sebab itu, proses pendewasaan anak bertitik-tolak dari anak sebagai anak manusia yang mempunyai tingkat-tingkat perkembangan sendiri.3.Pendekatan ReligiusPendekatan religius / religionisme dianut oleh pemikir-pemikir yangmelihat hakikat manusia sebagai makhluk yang religius. Namun demikiankemajuan ilmu pengetahuan yang sekuler tidak menjawab terhadapkehidupan yang bermoral.4.Pendekatan Psikologis.Pandangan-pandangan pedagogisme seperti yang telah diuraikantelah lebih memacu masuknya psikologi ke dalam bidang ilmu pendidikanhal tersebut telah mempersempit pandangan para pendidik seakan-akanilmu pendidikan terbatas kepada ilmu mengajar saja.5.Pendekatan Negativis.Pendidikan ialah menjaga pertumbuhan anak. Dengan demikian pandangan negativisme ini melihat bahwa segala sesuatu seakan-akantelah tersedia di dalam diri anak yang bertumbuh dengan baik apabilatidak dipengaruhi oleh hal-hal yang merugikan pertumbuhan tersebut.6.Pendekatan Sosiologis.Pandangan sosiologisme cenderung berlawanan arah dengan pedagogisme. Titik-tolak dari pandangan ini ialah prioritas kepadakebutuhan masyarakat dan bukan kepada kebutuhan individu.
Peserta didik adalah anggota masyarakat. Dalam sejarah perkembangan manusia kita lihat bahwa tuntutan masyarakat tidak selaluetis. Versi yang lain dari pandangan ini ialah develop mentalisme. Proses pendidikan diarahkan kepada pencapaian target-target tersebut dan tidak jarang nilai-nilai kemanusiaan disubordinasikan untuk mencapai target pembangunan. Pengalaman pembangunan Indonesia selama Orde Barutelah mengarah kepada paham developmentalisme yang menekan kepada pencapaian pertumbuhan yang tinggi, target pemberantasan buta huruf,target pelaksanaan wajib belajar 9 dan 12 tahun.Salah satu pandangan sosiologisme yang sangat populer adalahkonsiensialisme yang dikumandangkan oleh ahli pikir pendidikan FerkenalPaulo Freire.Pendidikan yang dikumandangkan oleh Freire ini yang juga dikenalsebagai pendidikan pembebasan pendidikan adalah proses pembebasan.Konsiensialisme yang dikumandangkan Freire merupakan suatu pandangan pendidikan yang sangat mempunyai kadar politis karenadihubungkan dengan situasi kehidupan politik terutama di negara-negaraAmerika Latin. Paulo Freire di dalam pendidikan pembebasan melihatfungsi atau hakikat pendidikan sebagai pembebasan manusia dari berbagai penindasan. Sekolah adalah lembaga sosial yang pada umumnyamempresentasi kekuatan-kekuatan sosial politik yang ada agar menjagastatus quo hukum membebaskan manusia dari tirani kekuasaan. Qua ataudi dalam istilah Polo Freire. “kapitalisme yang licik”. Sekolah harus berfungsi membangkitkan kesadaran bahwa manusia adalah bebas.

C.Pendekatan Holistik Integratif Pendekatan-pendekatan reduksionisme melihat proses pendidikan pesertadidik dan keseluruhan termasuk lembaga-lembaga pendidikan,menampilkan pandangan ontologis maupun metafisis tertentu mengenaihakikat pendidikan. Teori-teori tersebut satu persatu sifatnya mungkinmendalam secara Vertikal namun tidak melebar secara horizontal.Peserta didik, anak manusia, tidak hidup secara terisolasi tetapi dia hidupdan berkembang di dalam suatu masyarakat tertentu, yang berbudaya,yang mempunyai visi terhadap kehidupan di masa depan, termasuk kehidupan pasca kehidupan.

Pendekatan reduksionisme terhadap hakikat pendidikan, maka dirumuskansuatu pengertian operasional mengenai hakikat pendidikan. Hakikat pendidikan adalah suatu proses menumbuh kembangkan eksistensi pesertadidik yang memasyarakat, membudaya, dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional dan global. Rumusan operasional mengenaihakikat pendidikan tersebut di atas mempunyai komponen-komponensebagai berikut :1.Pendidikan merupakan suatu proses berkesinambungan.Proses berkesinambungan yang terus menerus dalam arti adanyainteraksi dalam lingkungannya. Lingkungan tersebut berupalingkungan manusia, lingkungan sosial, lingkungan budayanya danekologinya. Proses pendidikan adalah proses penyelamatan kehidupansosial dan penyelamatan lingkungan yang memberikan jaminan hidupyang berkesinambungan.Proses pendidikan yang berkesinambungan berarti bahwa manusiatidak pernah akan selesai.2.Proses pendidikan berarti menumbuhkembangkan eksistensimanusia.Eksistensi atau keberadaan manusia adalah suatu keberadaan interaktif.Eksistensi manusia selalu berarti dengan hubungan sesama manusia baik yang dekat maupun dalam ruang lingkup yang semakin luasdengan sesama manusia di dalam planet bumi ini. Proses pendidikan bukan hanya mempunyai dimensi lokal tetapi juga berdimensi nasionaldan global.3.Eksistensi manusia yang memasyarakat.Proses pendidikan adalah proses mewujudkan eksistensi manusia yangmemasyarakat. Jauh Dewey mengatakan bahwa tujuan pendidikantidak berada di luar proses pendidikan itu tetapi di dalam pendidikansendiri karena sekolah adalah bagian dari masyarakat itu sendiri.Apabila pendidikan di letakkan di dalam tempatnya yang sebenarnyaialah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusiayang pada dasarnya adalah kehidupan bermoral.4.Proses pendidikan dalam masyarakat yang membudaya.Inti dari kehidupan bermasyarakat adalah nilai-nilai. Nilai-nilaitersebut perlu dihayati, dilestarikan, dikembangkan dan dilaksanakan
oleh seluruh anggota masyarakatnya. Penghayatan dan pelaksanaannilai-nilai yang hidup, keteraturan dan disiplin para anggotanya. Tanpaketeraturan dan disiplin maka suatu kesatuan hidup akan bubar dengansendirinya dan berarti pula matinya suatu kebudayaan.5.Proses bermasyarakat dan membudaya mempunyai dimensi-dimensi waktu dan ruang.Dengan dimensi waktu, proses tersebut mempunyai aspek-aspek historisitas, kekinian dan visi masa depan. Aspek historisitas berarti bahwa suatu masyarakat telah berkembang di dalam proses waktu,yang menyejarah, berarti bahwa kekuatan-kekuatan historis telahmenumpuk dan berasimilasi di dalam suatu proses kebudayaan. Proses pendidikan adalah proses pembudayaan. Dan proses pembudayaanadalah proses pendidikan. Menggugurkan pendidikan dari proses pembudayaan merupakan alienasi dari hakikat manusia dan dengandemikian alienasi dari proses humanisasi. Alienasi proses pendidikandari kebudayaan berarti menjauhkan pendidikan dari perwujudan nilai-nilai moral di dalam kehidupan manusia.

2.2 PERMASALAHAN DALAM PENDIDIKAN
Sejak akhir perang dunia ke dua, pendidikan telah menjadi kegiatanutama di dunia dipandang dari segi keseluruhan pembiayaannya. Di pandangdari segi dana umum. Merupakan yang kedua, di bawah anggaranketentaraan.Pendidikan merupakan soal vital bagi tiap segi kemajuan dan perkembangan manusia, dan kedudukan dalam penentuan kebijakannasional maupun internasional bertumbuh secara lunak.-Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Perkembangan Pendidikan secarakeseluruhan cenderung mendahului perkembangan ekonomi.-Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pendidikan menyiapkan manusia, pria maupun wanita. Untuk memasuki jenis masyarakat yang baru samasekali.-Untuk pertama kalinya dalam sejarah, beberapa masyarakat mulaimenolak banyak hal tentang “hasil yang telah terselesaikan” dari pendidikan formal.Mengenai struktur sistem pendidikan, timbul berbagai keinginan dankecenderungan. Pendidikan taman kanak-kanak yang masih tetap terbatas,umumnya merupakan bagian integral (menyeluruh) dari sistem persekolahan. Pendidikan dasar meluas dalam ruang lingkupnya dan anak-anak ingin mulai sekolah pada umur lebih muda.Jumlah tahun yang digunakan untuk bersekolah juga meningkat, dan berubah atau perbaikan sering menjurus ke pemaduan ataupun penggandengan antara pendidikan dasar dan tahun-tahun pertama pendidikan menengah. Jumlah murid di sekolah juga makin meningkat, dantidak hanya pada tingkat rendah, pendaftaran di sekolah-sekolah lebih tinggisampai pada perguruan tinggi memperlihatkan peningkatan besar. Namun, karena jumlah pelajar makin meningkat, maka yang putussekolah (drop-outs) dan yang tinggal kelas juga makin banyak. Padaumumnya, yang paling banyak masuk terjadi pada tingkat terendah darisistemnya dan yang paling banyak keluar adalah di tengah jalan (terutamakarena gagal) atau di puncak, setelah menyelesaikan pelajaran dengan baik.Masuk dan keluar atau pindah di tengah-tengah pendidikan memang kurang,tetapi kini mulai banyak terjadi.Di negara-negara lain, kecenderungan bergerak ke arah ke daerahkan,melonggarkan penguasaan pusat dan kemungkinan keanekaragaman yanglebih besar. Namun masih merupakan faktor bahwa banyak perkembanganmemperlihatkan suatu konsistensi (ketetapan) yang memang aneh, karena berbagai keadaan atau situasi itu telah timbul secara perlahan di bawah teori,tantangan dan gerakan protes yang berbeda-beda.1)Pembaharuan (reformasi) pendidikanKecenderungan pertama ini bergerak ke arah perubahan atau penyusunan kembali (reorganisasi) struktur pendidikan yang ada danmemodernkan metode pengajaran. Dengan atau tanpa pengikut, perubahan struktur semacam itu, pada waktunya akan terjadi hampir dimana saja. Perubahan penting juga telah terjadi di negara-negarasedang berkembang, kebanyakan di selenggarakan oleh pemerintah pusat, meskipun kekurangan peralatan dan sistem birokrasi yang kurangsehat kadang kala sangat menghambat pembaharuan itu. Karena yangdiserahi tugas itu sering ingin menunggu dahulu sampai hasil-hasilPerolehan di lain negara dapat dipelajari.

2)Perubahan (transformasi) struktur Di negara-negara yang telah menjalin peningkatan sosial dan politik pada tahun-tahun terakhir ini, kejadian-kejadian telah seringmengakibatkan perubahan struktur yang cukup besar dalam dunia pendidikan, yang mempengaruhi penerimaan mahasiswa, kemudahanmemperoleh pendidikan pada berbagai tingkat, perubahan kurikulummeskipun belum sangat mendalam juga mempengaruhi modernisasimetode pengajaran.

3)Kritik RadikalKecenderungan ketiga diutarakan oleh mereka yang menyetujuiadanya pendidikan “tak terlembagakan” dan masyarakat tanpa sekolahformal.Kritik secara jujur atau penolakan pendidikan yang“dilembagakan” mungkin menjurus ke perumusan jalan tengah, tetapi juga dapat ke arah rencana radikal tentang masyarakat “tanpa sekolahformal” sama sekali. Teori ekstrem itu didasari gagasan bahwa pendidikan adalah variabel tak terikat dalam tiap masyarakat, danmerupakan sebab langsung dari pertentangan sosial.

4)Ketidak puasan.Kecenderungan keempat di sebabkan karena ketakpuasan padayang berkenaan sendiri. Dan ini telah banyak berkembang di negara-negara tertentu yang pendidikannya menyangkut para ahli politik, ahli pendidikan, ahli penelitian dan para ilmuwan, maupun para siswa sendiridan pula khalayak umum.Mereka menjadi kecewa, merasa tertekan, membuang-buangtenaga, menjadi bosan atau menemukan jalan keluar bagi harapan dancita-citanya. Keresahan mahasiswa sering merupakan tanda dalamsejarah, bila kritik secara luas mulai merongrong benteng pendidikanyang hingga waktu itu tak dapat ditembus. Meskipun demikian perhatianterhadap pendidikan belum pernah sebesar sekarang. Hai ini menjadisebab pertikaian yang memuncak menjadi pertikaian politik atauideologi. Dalam kenyataannya, hal-hal itu telah menjadi salah satu temautama dari pada kritik sosial mengenai pengalaman dan ideologi.Mengingat keadaan-keadaan negara dewasa ini, kita dapat danharus menyelami arti sebenarnya pendidikan dalam dunia modern ini,tidak hanya dengan menetapkan kembali kewajiban dan tanggung jawabnya kepada generasi sekarang yang harus disiapkan untuk dunia dikemudian hari, melainkan juga menganalisa atau menelaah tenaga danmitos yang mendasarinya, kemungkinan hari depannya dan tujuan sertasasaran utamanya.

2.3 PEMBAHASAN MASALAH
Pendidikan seumur hidup seharusnya merupakan kunci dari semuakebijaksanaan pendidikan di tahun-tahun mendatang, baik di negara yangindustrinya telah berkembang maupun di negara yang sedang berkembang.Konsep pendidikan seumur hidup dapat diterapkan dengan berbagai jalan, sebanyak adanya negara di dunia ini. Misalnya : memerlukan penyusunan kembali seluruh pendidikan. Di dalam maupun di luar sekolahdengan di dasari prinsip pendidikan seumur hidup.-Pendidikan harus diberikan dengan berbagai cara. Yang penting bukan bagaimana seseorang telah dididik, tetapi pengetahuan apa yangdengan nyata telah di peroleh.Tiap orang seharusnya memiliki kebebasan lebih besar dalam memilihapa yang akan dipelajari, dan penyelangan pelajaran jangan sampaimenghalangi seseorang untuk kemudian meneruskan lagi.-Pendidikan bagi kanak-kanak usia prasekolah harus menjadi tujuan penting bagi strategi pendidikan di hari mendatang. Pendidikan kanak-kanak usia prasekolah (mulai dari umur 2 atau 3 tahun) perludiorganisasi berdasar pada pola bebas, luwes dan dapat menemukancara-cara terbaik agar keluarga dan masyarakat setempat bersedia kerjasama dan bersama-sama memberikan biayanya.-Berjuta kanak-kanak dan anak muda masih belum memperoleh pendidikan. Pendidikan dasar secara umum yang diselenggarakanmenurut keperluan dan dana nasional, seharusnya merupakan tujuankebijaksanaan yang diprioritaskan di hari mendatang.Usaha menyeluruh untuk membuat pendidikan dasar tersedia bagisemua anak, merupakan proyek jangka panjang. Tetapi pengetahuansecara luwes yang memungkinkan penggunaan ruang sekolah dasar secara lebih intensif dan lebih luas, dapat sangat bermanfaat gunamengatasi akibat jelek dari “kelaparan” pendidikan yang sekarang.
Pendidikan seharusnya bertujuan tidak hanya untuk melatih anak muda dalam pekerjaan kelas, tetapi juga untuk melengkapinya agar dapat menyesuaikan diri dalam berbagai pekerjaan.Walaupun peranan utama pendidikan adalah memberikan latihandalam suatu kejujuran, namun sistem pendidikan jenis tradisional tidak mampu memberikan latihan yang tepat dapat mengikuti persyaratankerja yang terus berubah dalam industri modern.-Kewajiban latihan teknis seharusnya tidak khususnya jatuh padasistem sekolah. Itu sebaiknya dilakukan bersama oleh sekolah, perusahaan ekonomi, industri, dan pendidikan luar sekolah.-Guna memenuhi kewajiban dan harus tumbuh dalam latihan teknis, pendidikan memerlukan bantuan dari lembaga-lembaga lain. Dan inimembutuhkan kerja sama secara aktif antara pendidik, pemimpin perusahaan dan industri, pekerja dan pemerintah.-Pendidikan tinggi perlu diperluas dan dibuat cukup bervariasiuntuk memenuhi keperluan perorangan dan masyarakat. Sikaptradisional terhadap universitas harus berubah.-Pemerintah umum terhadap jenis-jenis baru lembaga pendidikantinggi akan membantu dalam menghilangkan tekanan yang terlalu banyak di bebankan pada universitas jenis tradisional.-Kemungkinan masuk ke berbagai jenis pendidikan dan pekerjaanseharusnya hanya tergantung dari pengetahuan, kemampuan dankecakapan seseorang.-Penilaian wajar dan baik dari kemajuan yang dicapai murid ataumahasiswa seharusnya berdasar pada penelaahan pekerjaannya selam jangka waktu tertentu dan bukan hanya pada hasil ujiannya.-Pengembangan pendidikan orang dewasa, di dalam dan di luar sekolah, seharusnya merupakan tujuan yang mendapat prioritas dalamstrategi pendidikan di waktu sepuluh tahun mendatang.Pendidikan orang dewasa dapat langsung mempengaruhi kemajuananak-anak di sekolah karena pendidikan dasar dan tingkat pendidikanorang tua tidak dapat dipisah-pisahkan. Anak-anak tidak dapat dididik secara baik dan lancar dalam lingkungan buta huruf.

Semua usaha pemberantasan buta huruf harus diselenggarakan kearah tujuan negara dalam perkembangan sosial dan ekonomi.Pemberantasan buta huruf seharusnya mempunyai dua tujuan dasar :-Pertama, melek huruf fungsional di antara kalangan pekerja di manadorongan untuk melek huruf adalah yang terbesar.-Kedua, melek huruf secara massal di mana keadaan sosial untuk perkembangan-politik, ekonomi, dan budaya-memungkinkanmasyarakat dapat ikut serta.-Bahwa terdapat pendidikan diri sendiri yang meliputi laboratorium bahasa, perpustakaan, bank data, dan peralatan audio-visual,sebagainya dipersatukan ke dalam semua sistem pendidikan.Berbagai jalan baru telah di ambil dalam pendidikan dan perluasanfasilitas pendidikan telah membantu meningkatkan dasar dan praktek belajar sendiri. Bagi setiap orang seharusnya disediakan sarana, peralatandan insentif guna membuat belajar sendiri menjadi suatu kegiatan yang produktif dan menguntungkan.-Sistem pendidikan seharusnya di gambarkan dan direncanakandalam rangka kemungkinan-kemungkinan yang di berikan oleh teknik pendidikan baru.Hingga kini sistem sekolah biasanya tak mampu menggunakankemungkinan-kemungkinan baru yang di berikan oleh kemajuanteknologi dan ilmu pengetahuan secara teratur dan sistematis.-Program pendidikan guru seharusnya memanfaatkan sepenuhnyametode dan alat bantu mutakhir.Sumber-sumber baru yang diberikan teknologi pendidikansebaiknya di perkenalkan dan dimasukkan secara sistematis dalamlembaga pendidikan guru.

2.4 Hang Out
Secara devinisi, sebenarnya tidak ada pendidikan untuk masyarakatmadani Indonesia. Oleh karena pendidikan merupakan bagian yangintegral dan kegiatan dari masyarakat dan kebudayaannya, maka yanglebih tepat adalah pendidikan dalam masyarakat madani Indonesia.Pendidikan dalam masyarakat madani Indonesia tidak lain ialah proses pendidikan yang mengakui akan hak-hak serta kewajiban perorangan di dalam masyarakat. Dalam suatu masyarakat yangdemokratis, hak-hak dan kewajiban tersebut merupakan batu landasan darimasyarakat.Proses pendidikan yang berakar dari kebudayaan, berbeda dengan praktis pendidikan yang terjadi dewasa ini yang cenderungmengalienasikan proses pendidikan dari kebudayaan. Kita memerlukansuatu perubahan paradigma dari pendidikan nasional untuk menghadapi proses globalisasi dan menata kembali kehidupan masyarakat Indonesia.Cita-cita era reformasi tidak lain ialah membangun suatu masyarakatmadani Indonesia. Oleh sebab itu paradigma baru pendidikan nasionaldiarahkan kepada terbentuknya masyarakat madani Indonesia tersebut.Pendidikan kita dewasa ini belum menunjang jiwa reformasi yaituyang menginginkan masyarakat demokratis, masyarakat terbuka, pemerintahan yang bersih, masyarakat transparan, dan bukan karena kolusiataupun untuk kepentingan kelompok sendiri.Pendidikan nasional kita dewasa ini yang telah terpisah dari kebudayaan, baik kebudayaan daerah maupun kebudayaan nasional. Dengan demikian pergeseran paradigma masyarakat Indonesia dalam memasuki kehidupan baru milenium ketiga, antara lain memerlukan strategi reformasi pendidikan nasional sebagai berikut :1.Pranata sosial pendidikan keluarga. Sekolah haruslahdijadikan pusat pengembangan kebudayaan daerah dan nasional.Untuk mencapai tujuan tersebut antara lain perlunya kebijakan pengambangan bahasa daerah di lembaga-lembaga pendidikandasar, menengah dan tinggi.2.Visi pendidikan nasional berakar dari kebudayaan nasional, perlu dijabarkan secara rinci dalam semua program pendidikan

3.Prinsip-prinsip kehidupan nasional yang berdasarkan pancasila perlu dilaksanakan di dalam kehidupan nyata dalamseluruh lembaga pendidikan.4.Menghidupkan dan mengembangkan tata cara hidupdemokrasi. Proses belajar dikembangkan dalam suasanademokrasi, artinya pendidikan bukan menggunakan “Sistem Bank”tetapi yang menghidupkan berpikir mandiri dan kritis, dapat berdialog dan menerima pendapat orang lain berbeda.5.Desentralisasi dan Sentralisa pengelolaan pendidikan yangseimbang. Oleh karena itu pendidikan nasional harus mempunyaivisi untuk dapat memberdayakan rakyat banyak sehingga rentanterhadap perubahan-perubahan global yang menimpanya.

BAB IIIPENUTUP
3.1 KESIMPULAN
-Era reformasi adalah era untuk terciptanya suatu masyarakat terbuka dan percaya kepada partisipasi masyarakat di dalam pengembangan dirinyasendiri.-Syarat-syarat untuk meningkatkan akuntabilitas pendidikan tinggi kitaialah semakin bosannya partisipasi masyarakat di dalam membangun pendidikan tingginya.-Pendekatan mengenai hakikat pendidikan dapat digolongkan atas duakelompok besar, yaitu :1.Pendekatan reduksionisme2.Pendekatan holistis integratif -Hakikat pendidikan adalah suatu proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional dan global.
3.2 SARAN
Ilmu merupakan imamnya amal, sehingga untuk berbuat sesuatu agar berhasil lebih baik dan tanpa kesulitan, seseorang harus memahami ataumenguasai ilmunya, terlebih dahulu serta menghantarkan seseorang ke tingkatkeimanan yang lebih tinggi dan ketakwaan yang sepenuhnya kepada sang pencipta.Sehubungan dengan perbuatan tugas ini, kami sangat mengharapkan sarandan kritik yang membangun dari semua pihak, untuk dijadikan landasan dalam penyempurnaan tugas ini.

DAFTAR PUSTAKA

Fernandez perez, Miguel . 1982 .
Krisis Dalam Pendidikan
. Jakarta : PNBalai Pustaka.

Prof . Dr. Tilaar , H.A.R.M.Sc.Ed. 2002 .
Pendidikan dan Masyarakat madani Indonesia
. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s